Oleh:Elsah
A. Pendahuluan
Masyarakat Islam di tanah air ini-bila
hendak melakukan suatu hajatan,misalnya pernikahan,bangun dan pindah
rumah,ataupun suanatan-sebahagian besar mendatangi dukun atau orang yang
dianggap pintar untuk menayakan waktu yang baik untuk melaksanakan hajatan
tersebut.Mereka meyakini bahwa waktu yang baik akan membawa
keberuntungan/berkah dan waktu yang buruk akan membawa keburukan/sial.
Sebahagian masyarakat lainnya,tidak
terikat pada kepercayaan tersebut.Mereka hanya percaya pada rukun Iman yang
ke-6 yang Ketetapan Allah atas segala sesuatu,bahwa segala sesuatu yang akan
menimpa bumi dan juga pada diri manusia terlah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum
langit,bumi dan segala isinya diciptakan (QS.Al Hadid:22) dan ketetapan itu telah tertulis
rapi dalam
induk kitabullah Lauh Mahfudz.Rasulullah SAW mengatakan bahwa Allah telah
menetapkan takdir-takdir manusia pada 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit
dan bumi,jadi lebih dahulu ditetapkan keberuntungan dan kesialan dari waktu
yang akan dipakai manusia untuk melakukan suatu kegiatan.Yang ditetapkan Allah
pasti terjadi dan yang tidak ditetapkan-Nya pasti tidak akan terjadi.
Sebahagian di antara kita ada bingun atas perbedaan
pendapat dan kepercayaan masyarakat.Tetapi kita yang dianugerahi akal tidak
perlu ikut-ikutan karena Allah telah memberi solusi bahwa bila terjadi
perbedaan pendapat dalam masalah keimanan maka kembalikanlah masalah itu kepada
Al Quran dan sunnah Rasul.Kepercayaan yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist
maka itulah kebenaran dan kepercayaan yang bertentangan dengannya maka itulah
kebathilan dan kesesatan.
Supaya kita bisa membedakan antara
kebenaran dan kebathilan dalam masalah kepercayaan kepada waktu baik dan waktu
buruk,maka penulis mencoba membuat suatu kajian tentang benar atau tidaknya
kepercayaan masyarakat mengenai keberuntungan dan kesialan yang terkadung di
dalam waktu pelaksanaan suatu kegiatan/hajatan dengan menggunakan patokan Al
Quran dan Sunnah Rasul.Kalau ternyata benar mengapa sebahagian masyarakat Islam
lainnya tidak mempercayainya ?.Dan kalau ternyata salah mengapa banyak yang
mempercayainya dan bagaimana hukumnya bila mempercayainya ?.
B.
Hikmah dibalik Penciptaan Waktu
Allahlah yang menciptakan makhluk
dengan hak.Artinya segala ciptakaan Allah mengandung hikmah,maksud, dan
tujuan.Jadi,tidak ada satupun makhluk yang tercipta secara kebetulan dan hidup
dengan sia-sia atau tanpa tujuan dari Allah,melainkan sesuai dengan manajemen
Allah.Begitupun halnya penciptaan waktu melalui perputaran matahari dan bulan.
Melalui Al Quran,penulis merangkum
beberapa hal yang berhubungan dengan waktu/masa,antara lain:
1. Waktu adalah salah satu bukti
kekuasaan Allah dalam mengatur kehidupan makhluk-Nya.Allah dalam melaksanakan
kekuasaan-Nya menggunakan waktu/masa (tetapi tidak dibatasi oleh
waktu),misalnya menciptakan langit dan bumi beserta isinya dalam enam masa,Allah mengatur kehidupan
manusia dalam beberapa masa,yaitu masa penciptaan dalam Rahim ibu ,masa hidup dunia ,masa istrahat di alam kubur,masa terjadinya kiamat,masa peradilan di padam mahsyar,masa melewati shirat yang terbentang
di atas jahannam dan masa hidup
di surga atau di neraka.Dan
perhatikanlah bagaimana kita hidup di muka bumi ini semua berlangsung dalam
masa yang telah ditentukan Allah,bukan yang ditentukan oleh diri kita sendiri.
2. Waktu adalah
masa hidup manusia di muka bumi ini dan berlakunya ketetapan Allah
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang
batas waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak
(pula) dapat memajukannya” (Q.S. Al A’raaf : 34).
“Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak
akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi
Allah menangguhkan sampai kepada waktu yang ditentukan.Maka apabila telah tiba
waktu (yang telah ditentukan) bagi mereka, tidak mereka dapat mengundurkannya
barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”.(Q.S. An Nahl : 61).
Waktu-waktu
tersebut di atas, baik di dunia maupun di akhirat (kiamat), siang maupun malam
akan membawa keberuntungan bagi yang memanfaatkannya untuk kepentingan hidupnya
di dunia dan di akhirat, misalnya :
a.
Waktu siang dipakai untuk bekerja dan menjalankan ibadah, yang
diantaranya ada waktu khusus yang dimuliakan Allah untuk melaksanakan suatu
ibadah seperti waktu Dhuha (Q.S. Ad Dhuha : 1)
b.
Waktu malam yang dipakai untuk istirahat dan menjalankan ibadah,
yang diantaranya ada waktu yang dimuliakan Allah seperti malam yang sepuluh (di
bulan ramadhan) malam bila berlalu (sepetiga malam terakhir), fajar?subuh dan
sebelum terbit matahari. (Q.S. Al Fajr 1-4 dan Ad Dhuha : 2).
Bagi Allah, semua
waktu adalah baik, yaitu memberi keberuntungan bagi orang yang memanfaatkannya
dan sebaliknya semuanya akan memberi kerugian bagi orang-orang yang
melalaikannya, seperti tidak bekerja diwaktu siang akan berakibat tidak akna
memperoleh karunia Allah, melalaikan waktu shalat akan berakibat kecelakaan
dalam kehidupan akhirat (Q.S. Al Maa’un : 4-5). Bagi Allah, tidak ada waktu
yang sial, tetapi yang sial adalah manusia yang menyia-nyiakan waktu,
sebagaimana yang dikatakan Allah : “Demi waktu, sesungguhnya manusia berada
dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh,
dan nasehatmenasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menepati kesabara” (Q.S. Al Asr : 1-3).
Tidak ada
satu pun ayat dalam Al Qur’an ataupun hadist yang menyatakan bahwa kesialan
atau keburukan yang menimpa suatu negeri atau kaum disebabkan karena melakukan
suatu perbuatan pada waktu tertentu.
3.
Waktu adalah kesempatan bagi manusia untuk mengusahakan
penghidupannya di dunia ini. “Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu
diwaktu malam dan siang hari usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya” (Q.S.
Ar Ruum : 23).
“Dan karena Rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang supaya
kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dai
karunia-Nya” (Q.S. Al Qashash : 73).
4.
Waktu adalah kesempatan bagi manusia untuk melaksanakan ibadah
sebagai bekal kehidupan akhirat.
“Maka bertasbihlah kepada Allah diwaktu kamu
berada di petang hari dan waktu kamu berada diwaktu subuh (Q.S. Ar Ruum : 17.
Dan diwaktu kamu berada diwaktu Dzuhur : 18).
Bertasbihlah kamu sambil memuji Tuhanmu
sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbihlah kamu
kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang”.(Q.S. Qaaf : 39-40).
Waktu
amat penting bagi Allah, makanya dalam Al Qur’an Allah beberapa kali bersumpah
dengan waktu. Dan apa saja yang dijadikan Allah sebagai sumpah maka terkandung
di dalamnya keberkahan kemuliaan atau keberuntungan bagi orang yang
memperhatikannya. Ada beberapa sumpah Allah yang menggunakan waktu, antara
lain:
a.
Aku bersumpah dengan hari kiamat (Q.S. Al Qiyamah : 1).
b.
Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil
dan malam bila berlalu (Q.S. Al Fajr : 1-4).
c.
Demi matahri dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila
mengiringinya dan siang apabila menampakkannya dan malam apabila menutupinya
(Q.S. Asy Syams : 1-4).
d.
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) dan siang apabila
terang benderang (Q.S. Al lail : 1-2).
e.
Demi waktu matahari sepenggalan naik dan demi malam apabila telah
sunyi (Q.S. Ad duha :1-2).
Yang ada adalah kesialan atau keburukan
yang menimpa suatu negeri atau kaum disebabkan bahwa berlakunya ketetapan Allah
yang telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfudz (Q.S. Al Hadid : 22), atau
“Apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (Q.S.
An Nisaa : 79), atau “Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kapada
mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka” (Q.S. Al Maaidah : 49), atau
“Sesungguhnya kami akan menurunkan adzab dari langit atas penduduk kota ini
karena mereka berbuat fasik” (Q.S. Al Ankabut : 34), atau “Telah Nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (Q.S. Ar Ruum
: 41).
Jadi Allah menciptakan waktu untuk untuk
manusia untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan waktu kita di muka bumi
ini. Sesungguhnya akan dipertanggung jawabkan pada hari kiamat , manfaatkanlah
waktu untuk meraih keberkahan dan jangan menyia-nyiakan agar tidak merugi
hidupmu.
C.
Pergunakan Akalmu Terhadap Waktu
Alangkah ruginya seorang penuntut ilmu yang
telah menempuh jenjang pendidikan tinggi
dengan meraih gelar kailmuan lantas tidak dipergunakan akalnya untuk membaca
tanda-tanda kekuasaan Allah, melainkan mengikuti prasangka prasangka orang
banyak yang bersumber dari kebodohan orang-orang zaman jahiliyah (pra Islam).
Peredaran waktu adalah salah satu tanda kekuasaan Allah.Waktu adalah masa
berlakunya kekuasaan dan ketetapan- ketetapan Allah atas diri makhlukNya.
Ketetapan Allah itu telah tertulis dalam Kitab LAuh Mahfudz jauh sebelum
diciptakannya langit dan bumi (Q.S. Al hadid :22).
Bukalah mata hatimu dan lihatlah peristiwa-peristiwa
yang terjadi di muka bumi ini terhadap alam atau terhadap manusia.
Keberuntungan ( kebaikan) (kabaikan) dan kesialan (keburukan) silih berganti.
Di hari yang sama sebagian manusia meraih keuntungan dan sebagian lainnya
meraih kerugian/keburukan. Ada yang lahir dan ada yang mati, ada yang menikah
da nada yang bercerai, ada yang bergembira da nada yang bersedih.Tidak ada satu
pun hari yang di dalamnya semua manusia meraih keberuntungan dan tidak pula
semuanya meraih kesialan.
Bukalah mata hatimu dan lihatlah
kenyataan-kenyataan dalam masyarakat. Misalnya sepuluh orang melangsungkan
pernikahan dalam waktu yang sama (baik), apakah rumah tangga mereka dijamin
sama dalam keberuntungan. Kenyataannya ada yang kaya (untung), ada yang miskin
(sial), ada yang akur (untung), ada yang bercerai (sial), ada yang membeli
kendaraan (untung), dan ada yang ditabrak kendaraan (sial). Kalau saja ada
waktu yang membawa keberuntungan tentu tidak akan ada perceraian, rumah tangga
yang miskin atau janda dan duda muda. Kenyataannya, semuanya mengikuti
takdirnya masing-masing.
“Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi
orang-orang yang ingin mengambil pekerjaan atau orang yang ingin bersyukur”
(Q.S. Al Furqan : 62).
D.
Kesesatan Kepercayaan Kepada Waktu Baik Dan Waktu Sial
Sesatnya suatu ajaran atau kepercayaan kita
kembalikan kepada patokannya yaitu Al Qur’an dan hadist.Suatu ajaran dikatakn
sesat apabila ajaran itu bertentangan dengan Al Qur’an dan hadist. Dalam
pandangan syari’at, kita menemukan berbagai kesesatan dalam kepercayaan pada
waktu baik dan waktu buruk, antara lain :
1. Bertentangan
dengan ketetapan Allah atas diri makhluk-Nya.
Allah telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi pada diri
makhluk-Nya. Ketetapan Allah itu telah tertulis dalam kitab-Nya, Lauh Mahfudz
jauh sebelum makhluk itu diciptakan (Q.S. Al Hadid :22).
2. Bertentangan
denga tujuan Allah menciptakan waktu, yaitu waktu itu diperuntukkan bagi
makhluk, yaitu :
a. Untuk
menjadi ukuran batas hidup di muka bumi ini.
b. Sebagai
kesempatan bagi manusia untuk berusaha mencari bekal demi kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat.
c. Untuk
menjadi ukuran bagi manusia dalam menentukan btas-batas kegiatannya di muka
bumi ini.
3. Bertentangan
dengan akal sehat dan kenyataan hidup sehari bahwa dalam waktu yang diyakini
baik ternyata terjadi pula berbagai kesialan /keburukan dan dalam waktu yang
diyakini buruk/sial ternyata terjadi pula berbagai keberuntungan/kebaikan.
4. Dilarang
oleh Allah dan Rasul-Nya
Dalam sebuah Hadist Qudsi Allah berfirman : Anak-anak Adam ada
yang menyakiti hatiku, mereka mencela waktu, padahal Akulah yang menciptakan
waktu” (HR. Bukhari). Dlam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah
mencela waktu, karena sesungguhnya Allahlah yang menciptakan waktu” (HR.Buhari).
5. Allah
melarang kita mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan atasnya.
Kebanyakan manusia mempercayai waktu baik dan waktu buruk
hanyakarena ikut-ikutan pada kepercayaan nenek moyang atau orang banyak,
padahal Allah mengingatkan agar :
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu
atasnya, sesungguhya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai
pertanggungjawaban” (Q.S. Al Israa : 36).
“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti
persangkaan belaka” (Q.S. Al An’aam : 116).
Menanyakan waktu baik atau waktu buruk pada dukun/paranormal atau
seorang yang bisa meramal sangant dilarang oleh Rasulullah SAW.
“Barangsiapa yang mendatangi dukun/paranormal, maka tidak diterima
shalatnya selama 40 hari” (HR. Muslim).
“Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercayai ucapannya
berarti kufur terhadap Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad” (HR.Ahmad).
“Bukan umatku, orang yang mempercayai yanda-tanda keberuntungan
dan tanda-tanda kesialan” (HR. Al Bazaar).
7. Kepercayaan
pada waktu baik dan waktu sial hanyalah
sebuah mitos/takhyul yang bersumber dari prasangka orang-orang dulu (nenek
moyang). Mereka hanya menghitung-hitung waktu (tanggal hijriah) dan
menghubungkannya dengan sifat-sifat dari unsur penciptaan manusia (tanah, air,
angin dan api).
Tanah dipercaya memiliki sifat sabar, setia memberi rezki; air
dipercaya memiliki sifat sejuk, mendatangkan rezki, damai; angin dipercaya
memiliki sifat berubah-ubah, membuang/menerbangkan rezki; sedangkan api
dipercaya memiliki sifat emosional, dan dapatmenghabiskan/membakar rezki. Nenek
moyang itu membuat perhitungan bulan (hijriah) dengan keempat unsur di atas,
seperti :
Tanah
|
Air
|
Angin
|
Api
|
1
|
2
|
3
|
3
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
Menurut
perhitungan nenek moyang bahwa waktu yang baik adalah waktu yang ada pada kolom
tangah dan kolom air. Sedangkan waktu yang buruk terdapat pada kolom angina dan
api. Umumnya waktu yang dipakai masyarakat untuk melangsungkan pernikahan
adalah waktu pada kolom air.
Selain dari itu
terdapat pula waktu yang diyakini sial, antara lain :
1. Tanggal 1
Muharram dan setiap hari yang bertepatan dengan satu muharramitu (pokok taung).
Kepercayaan ini bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya yang justru
memuliakan bulan muharram
2. Hari Rabu
terakhir dalam bulan hijriyah (cappu’ araba). Kepercayaan ini berdasarkan pada
sebuah hadist palsu yang berbunyi “Hari Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari
yang sial yang membawa kegelapan”.
3. Hari Jumat
yang apabila dalam tahun itu bertepatan dengan Idul Fitri atau Idul Adha (dua
kali dibacakan khutbah). Kepercayaan ini bertentangan dengan ajaran Rasulullah
bahwa hari Jumat adala hari istimewa/hari raya umat Islam dalam seminggu.
8. Percaya
kepada waktu baik dan waktu sial adalah bagian dari kesyirikan, yaitu mengharap
sesuatu kepada selain Allah (kepada waktu) dan takut kepada selain Allah.
Padahal segala keberuntungan dan kesialan hanya datang dari Allah bukan datang
dari waktu yang diciptakan Allah.
9. Percaya
kepada waktu baik dan waktu sial adalah bentuk taklid buta yang dilarang dalam
agama. Mereka hanya bersandar pada kebiasaan sebagian besra masyarakat, atau
perkataan para dukun, atau mengikuti tradisi nenek moyang. Padahal kepercayaan
seperti itu tidak ada di dalam Islam melainkan tipu daya syaitan. “Barangsiapa
yang berpaling dari peringtan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam
adzab yang berat (Q.S. Al Jin : 15).
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang
sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”
(Q.S. An Najm : 28).
(Apakah mereka akan mengikuti nenek moyang), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk” (Q.S.
al Baqarah : 170).
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja”
(Q.S. yunus : 36).
10. Percaya
kepada waktu sial atau menghindari waktu-waktu yang dianggap sial untuk
melakukan suatu ibadah (pernikahan, sunatan, membuat tempat tinggal) adalah
salah satu bentuk kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
“barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungghunya
neraka Jahannamlah baginya” (q.S. At Taubah : 63).
“Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya baginya neraka jahannam.Mereka kekal di dalamya selama-lamanya.
(Q.S. Al Jin : 23).
E.
Penutup
Allah SWT menganugerahi kita akal untuk
dipergunakan untuk memahami ayat- ayat Allah dan untuk mencari karunia Allah
yang telah tersebar di mukan bumi ini. Salah satu karunia Allah yang patut
disyukuri adalah waktu, sebagai
kesempatan untuk mencari apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita untuk
kehidupan dan kehidupan dunia.
Beruntunglah orang-orang yang memanfaatkan
waktunya untuk meraih keutamaan hidup.Dan betapa ruginya atau sialnya seseorang
yang menghabiskan waktu atau umurnya dengan kegiata-kegiatan yang tidak tidak
bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Tidak ada waktu sial, yang ada adalah manusia
yang sial dalam menggunakan waktu, yang dengan melakukan perbuata dosa dan meninggalkan
amal-amal saleh. Ingat, Allah tergatung pada persangkaan manusia, kalu kita
berprasangka bahwa semua waktu adalah baik maka Allah akan memberikan kebaikan
kepada kita yang tentunya diiringi dengan memanfaatkan waktu dengan usaha-usaha
yang diridhai Allah. Dan bila kita berprasangka buruk terhadap waktu maka
Allahakan mendatangkan keburukan kepadanya.
Sebagai umat Islam yang percaya kepada
takdir, marilah kita menyandarkan segala sesuatu yang telah terjadi sebagai
ketetapan Allah dan terhadap sesuatu yang belum terjadi maka marilah kita
selalu mengharap yang terbaik dan terhindar dari yang buruk. Jangan menakuti
sesuatu yang belum tentu akan terjadi pada diri kita, lakukanlah apa yang
bermanfaat dalam hidupmu dan selalu berprasangka baik terhadap Allah atas
segala yang akan terjadi dalam perajalanan waktumu. Jangan tersesat dan jangan
menyesatkan orang dalam urusan waktu.(Palajau,13 Nopember 2012).
Bagi anda yang hobby bermain judi online seperti :
BalasHapusBandar Ceme, Ceme Keliling, Capsa Susun, Domino, Bandar Poker dan Live Poker.
Mari segera bergabung bersama kami di www,s1288poker,com
Kami agen penyediaan jasa judi online terbaik dan terpercaya.
(PIN BBM : 7AC8D76B)