Tidak ada dokumen otentik baik tertulis maupun bukti lainnya
yang menceritakan tentang asal mula tradisi akjeknek-jeknek sappara,informasi
yang penulis peroleh hanya berumber dari beberapa orang tua dan tokoh adat
Masyarakat di sekitar lokasi yang penulis himpun pada tahun 1999.Jadi penulis
tidak memberi jaminan bahwa seluruh isi tulisan ini atau yang diceritakan oleh sumber secara turun temurun adalah 100 % benar.Dan
sebelumnya penulis mohon maaf kepada masyarakat Balang Loe Tarowang dan sekitarnya,bila ada kesalahan dalam tulisan ini.Berikut
kisahnya.
Pada zaman dahulu,sekitar 500 tahun yang lalu atau sekitar
abad ke-16 datang seorang tabib dari Sumbawa Nusa Tenggara Barat bersama
keluarganya ke salah satu kampung dalam wilayah Kerajaan Tarowang,kampung
tersebut sekarang bernama Balangloe.Tabib tersebut-yang oleh sumber tidak
mengenal namanya-sangat disegani,dihormati dan disukai oleh masyarakat Kerajaan
Tarowang,karena orangnya baik,suka menolong dan memiliki keahlian untuk
mengobati segala macam penyakit dengan ramuan tradisional.Berapa orang telah
diobati dan atas izin Allah disembuhkannya dengan tidak memasang tariff.Banyak
yang memberinya hadiah sebagai ungkapan terima hasihnya sehingga tabib menjadi
kaya dan membangun rumah yang besar.Selain ahli mengobati,tabib itu ahli pula
menyunat sehingga banyak yang meminta bantuannya untuk menyunat anak-anaknya.
Waktupun berjalan,hingga suatu ketiga seorang keluarga
Kerajaan Gowa (Sombayya ri Gowa) menderita suatu penyakit kronis.Sudah beberapa
tabib kerajaan telah mengobati namun kesembuhan belum berpihak padanya.Hingga
pihak kerajaan mendengar berita keahlian tabib Sumbawa yang tinggal di Kerajaan
Tarowang,maka datanglah utusan Kerajaan Gowa menjemput Sang Tabib ke kerajaan
untuk mengobati keluarga raja.Nampaknya takdir kesembuhan telah datang kepada
keluarga raja yang sakit.Beberapa hari setelah diobati oleh tabib darinKerajaan
Tarowang,maka keluarga raja sudah bisa menghirup udara kesembuhan.Rajapun
gembira lalu memberikan beberapa hadiah kepada tabib yang berhasil
mengobatinya.Dengan diantar oleh beberapa utusan kerajaan,tabib itu pulang ke
Balang loe.
Sesampai di Balang loe,utusan Kerajaan Gowa menjadi
terheran-heran melihat kekayaan dan kebesaran rumah Sang Tabib hingga di
antaranya ada yang menyindir bahwa hanya raja yang bisa memiliki rumah seperti
itu.Sindiran itu membuat Sang Tabib tersinggung dan menjadi beban dalam
hidupnya hingga suatu waktu berubah hati untuk kembali ke tanah
kelahirannya,Sumbawa.
Niat Sang Tabib untuk kembali ke Sumbawa disambut duka cita
oleh masyarakat Kerajaan Tarowang terutama yang tinggal di kampung
Balangloe.Bagaimana tidak berduka dan bersedih kalau orang yang selama ini
dicinta dan menjadi penolongnya akan meninggalkannya,namun mereka tidak punya
daya untuk menghalanginya.Dengan berat hati warga Kerajaan Tarowang melepas
kepergian sang Tabib bersama keluarganya.Kata sumber itu terjadi pada
pertengahan Bulan Safar.
Sang Tabib kembali ke tanah asalnya dengan naik perahu yang
dilepas oleh masyarakat di pantai Balang loe.Sebagai wujud rasa cinta masyarakat,maka
mereka membekali Sang Tabib dengan berbagai ole-ole makanan dan
lainnya.Masyarakat hanya bisa pasrah dan dengan linangan air mata menyaksikan
orang yang dicintainya meninggalkan Balang Loe,mereka berdiri di pantai
memandang terus sampai perahu yang membawa Sang tabib tak Nampak lagi di
matanya.
Waktupun berjalan terus.Purnama berganti-ganti.Hingga
bebarapa tahun atau ratusan tahun,kala kisah Sang Tabib mulai dilupakan
masyarakat,terjadilah takdir yang bakal membuka ingatan masyarakat Kerajaan Tarowang
tetang orang yang pernah dianggapnya sebagai pahlawan kehidupan.Tersebutlah
kisah di mana salah seorang kelaurga Kerajaan Tarowang mengidap penyakit
kronis.Sudah beberapa tabib atau orang pintar mengobati didatangkan namun
mereka pula dengan kegagalan.Hingga suatu malam pihak keluarga raja atau orang
yang sakit bermimpi melihat dirinya dan keluarganya mandi-mandi di Pantai
Balang loe.Atas mimpi itulah mereka bernazar bahwa bila sembuh maka akan pergi
mandi-mandi di Pantai Balang Loe,lalu entah siapa yang menceritakan sehingga
kisah Tabib dari Sumbawa itu terungkap.Setelah bernazar maka keluarga raja yang
sakit itupun berangsur-angsur sembuh,sampai akhirnya nazarpun dilaksanakan
dengan cara tradisional,yaitu membawa sesajen persembahan ke Sang Tabib yang
diyakini mengobati penyakit keluarga raja lalu Mandi-mandi.
Keajaiban yang dialami keluarga raja yang sembuh setelah
bermimpi dan bernazar tersebar luas,sampai kian waktu semakin bertambah orang
yang mendatangi Pantai Balang loe untuk mandi-mandi terutama pada Bulan
Safar,sampai akhirnya berkembang kepercayaan bahwa Pantai Balang Loe
angker,penghuninya yang diyakini Roh Sang Tabib masih bisa menolong masyarakat
dengan cara mandi-mandi di Pantai Balang Loe.Kepercayaan itulah yang mendorong
lahirnya ritual upacara adat setiap tahunnya pada pertengahan Bulan Safar yang
diberi nama “Akjeknek-Jeknek Sappara” (Mandi-mandi di Bulan Safar).Keyakinan
bahwa roh Sang Tabib hadir pada acara pesta adat membuat masyarakat
menyambutnya dengan suka cita dan penghormatan,antara lain mempersembahkan
hiburan “Assempak”,mempersebahkan sesajen dan ritual penghormatan.Masyarakatpun
berdatangan dengan berbagai tujuan dan keyakinan.Ada yang datang hanya sekedar
melihat keramaian,namun kebanyakan di antara mereka yang datang dengan membawa
keyakinan,antara lain mempersembahkan sesajen untuk mengharap berkah atau
menghindari kemudaratan,ada yang datang untuk mengambil benang atau kayu yang
nantinya djadikan jimak mempermuda jodoh atau memperancar usaha.
Waktu terus berjalan menuju ke era modern.Tradisi upacara
adat “Akjeknek-jeknek Sappara”pun mengalami kemajuan kearah modernisasi.Kalau
dulu hanya dihadiri oleh warga masyarakat Kerajaan Tarowang,kini dihadiri pula
oleh masyarakat luar Kabupaten Jeneponto.Kalau dulu hanya dilakukan oleh
tokoh-tokoh adat,kini pemerintah telah ikut berpartisifasi.Kalau dulu hanya
dimeriahkan dengan acara adu ayam (Aklotteng),adu manusia (Assempak),dan
upacara adat (appaenteng panggadakkan),kini telah di meriahkan dengan
pertandingan berbagai cabang olah raga dan seni,dan ajang promosi diri bagi
calon-calon pemimpin.Kalau dulu hanya untuk mengenang jasa-jasa Sang Tabib,kini
telah dilengkapi untuk mengenang keberadaan kerajaan Tarowang.Kalau dulu hanya
menggunakan musik tradisional (Ganrang tallu),kini dilengkapi dengan musik
modern (elekton).
Tradisi “Akjeknek-jeknek Sappara” memliki prosfektik yang
cerah karena sudah menjadi agenda tahunan masyarakat bahkan pemerintah
kabupaten,karena oleh pihak pemerintah memandangnya sebagai suatu budaya yang
perlu dilestarikan karena mengandung nilai wisata,ekonomi dan silaturrahmi.Apalagi
setelah terbentuk Kecamatan Tarowang melalui Perda Kab.Jeneponto No.9 Tahun
2006.Media massapun memperomosikannya.Namun,yang menjadi pertanyaan bagi kita
yang Beragama Islam apakah kepercayaan atau keyakinan masyarakat yang ada di
dalamnya juga akan terus berkembang,sehingga sampai meninggal mereka akan
mempersembahkan sesajen di laut karena didorong oleh “harap dan takut”,atau
akan memperebutkan benang dan kayu untuk dijadikan jimak ?. Apakah praktek judi
sabun ayam akan terus berlanjut ?Jawabannya kita kembalikan ke diri kita
masing-masing.Dan kita berharap agar hal-hal yang positif kita teruskan dan
tingkatkan dan hal-hal negatif kita luruskan dan tinggalkan.Sebagai pesta
rakyat yang bernilai ekonomi,wisata,kerativitas dan silaturrahim,kita dukun
demi pembangunan daerah kita terutama Kecamatan Tarowang,tetapi hal-hal yang
bisa merusak akidah ini yang perlu kita luruskan dan menjadi tanggaung jawab
kita semua terutama para ulama ulama atau tokoh agama Desa Balangloe Tarowang khusnya dan Kab.Jeneponto umumnya agar masyarakat bisa membedakan antara tradisi murni dengan tradisi yang mengadung kesyirikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar