Senin, 06 April 2015

ASAL MULA DAN PERSPEKTIF TRADISI “AJEKNEK-JEKNEK SAPPARA” DI DESA BALTAR KEC.TAROWANG KAB.JENEPONTO



             Tidak ada dokumen otentik baik tertulis maupun bukti lainnya yang menceritakan tentang asal mula tradisi akjeknek-jeknek sappara,informasi yang penulis peroleh hanya berumber dari beberapa orang tua dan tokoh adat Masyarakat di sekitar lokasi yang penulis himpun pada tahun 1999.Jadi penulis tidak memberi jaminan bahwa seluruh isi tulisan ini atau yang diceritakan oleh sumber secara turun temurun adalah 100 % benar.Dan sebelumnya penulis mohon maaf kepada masyarakat Balang Loe Tarowang dan sekitarnya,bila ada kesalahan dalam tulisan ini.Berikut kisahnya.
             Pada zaman dahulu,sekitar 500 tahun yang lalu atau sekitar abad ke-16 datang seorang tabib dari Sumbawa Nusa Tenggara Barat bersama keluarganya ke salah satu kampung dalam wilayah Kerajaan Tarowang,kampung tersebut sekarang bernama Balangloe.Tabib tersebut-yang oleh sumber tidak mengenal namanya-sangat disegani,dihormati dan disukai oleh masyarakat Kerajaan Tarowang,karena orangnya baik,suka menolong dan memiliki keahlian untuk mengobati segala macam penyakit dengan ramuan tradisional.Berapa orang telah diobati dan atas izin Allah disembuhkannya dengan tidak memasang tariff.Banyak yang memberinya hadiah sebagai ungkapan terima hasihnya sehingga tabib menjadi kaya dan membangun rumah yang besar.Selain ahli mengobati,tabib itu ahli pula menyunat sehingga banyak yang meminta bantuannya untuk menyunat anak-anaknya.
            Waktupun berjalan,hingga suatu ketiga seorang keluarga Kerajaan Gowa (Sombayya ri Gowa) menderita suatu penyakit kronis.Sudah beberapa tabib kerajaan telah mengobati namun kesembuhan belum berpihak padanya.Hingga pihak kerajaan mendengar berita keahlian tabib Sumbawa yang tinggal di Kerajaan Tarowang,maka datanglah utusan Kerajaan Gowa menjemput Sang Tabib ke kerajaan untuk mengobati keluarga raja.Nampaknya takdir kesembuhan telah datang kepada keluarga raja yang sakit.Beberapa hari setelah diobati oleh tabib darinKerajaan Tarowang,maka keluarga raja sudah bisa menghirup udara kesembuhan.Rajapun gembira lalu memberikan beberapa hadiah kepada tabib yang berhasil mengobatinya.Dengan diantar oleh beberapa utusan kerajaan,tabib itu pulang ke Balang loe.
            Sesampai di Balang loe,utusan Kerajaan Gowa menjadi terheran-heran melihat kekayaan dan kebesaran rumah Sang Tabib hingga di antaranya ada yang menyindir bahwa hanya raja yang bisa memiliki rumah seperti itu.Sindiran itu membuat Sang Tabib tersinggung dan menjadi beban dalam hidupnya hingga suatu waktu berubah hati untuk kembali ke tanah kelahirannya,Sumbawa.
Niat Sang Tabib untuk kembali ke Sumbawa disambut duka cita oleh masyarakat Kerajaan Tarowang terutama yang tinggal di kampung Balangloe.Bagaimana tidak berduka dan bersedih kalau orang yang selama ini dicinta dan menjadi penolongnya akan meninggalkannya,namun mereka tidak punya daya untuk menghalanginya.Dengan berat hati warga Kerajaan Tarowang melepas kepergian sang Tabib bersama keluarganya.Kata sumber itu terjadi pada pertengahan Bulan Safar.
Sang Tabib kembali ke tanah asalnya dengan naik perahu yang dilepas oleh masyarakat di pantai Balang loe.Sebagai wujud rasa cinta masyarakat,maka mereka membekali Sang Tabib dengan berbagai ole-ole makanan dan lainnya.Masyarakat hanya bisa pasrah dan dengan linangan air mata menyaksikan orang yang dicintainya meninggalkan Balang Loe,mereka berdiri di pantai memandang terus sampai perahu yang membawa Sang tabib tak Nampak lagi di matanya.
             Waktupun berjalan terus.Purnama berganti-ganti.Hingga bebarapa tahun atau ratusan tahun,kala kisah Sang Tabib mulai dilupakan masyarakat,terjadilah takdir yang bakal membuka ingatan masyarakat Kerajaan Tarowang tetang orang yang pernah dianggapnya sebagai pahlawan kehidupan.Tersebutlah kisah di mana salah seorang kelaurga Kerajaan Tarowang mengidap penyakit kronis.Sudah beberapa tabib atau orang pintar mengobati didatangkan namun mereka pula dengan kegagalan.Hingga suatu malam pihak keluarga raja atau orang yang sakit bermimpi melihat dirinya dan keluarganya mandi-mandi di Pantai Balang loe.Atas mimpi itulah mereka bernazar bahwa bila sembuh maka akan pergi mandi-mandi di Pantai Balang Loe,lalu entah siapa yang menceritakan sehingga kisah Tabib dari Sumbawa itu terungkap.Setelah bernazar maka keluarga raja yang sakit itupun berangsur-angsur sembuh,sampai akhirnya nazarpun dilaksanakan dengan cara tradisional,yaitu membawa sesajen persembahan ke Sang Tabib yang diyakini mengobati penyakit keluarga raja lalu Mandi-mandi.
            Keajaiban yang dialami keluarga raja yang sembuh setelah bermimpi dan bernazar tersebar luas,sampai kian waktu semakin bertambah orang yang mendatangi Pantai Balang loe untuk mandi-mandi terutama pada Bulan Safar,sampai akhirnya berkembang kepercayaan bahwa Pantai Balang Loe angker,penghuninya yang diyakini Roh Sang Tabib masih bisa menolong masyarakat dengan cara mandi-mandi di Pantai Balang Loe.Kepercayaan itulah yang mendorong lahirnya ritual upacara adat setiap tahunnya pada pertengahan Bulan Safar yang diberi nama “Akjeknek-Jeknek Sappara” (Mandi-mandi di Bulan Safar).Keyakinan bahwa roh Sang Tabib hadir pada acara pesta adat membuat masyarakat menyambutnya dengan suka cita dan penghormatan,antara lain mempersembahkan hiburan “Assempak”,mempersebahkan sesajen dan ritual penghormatan.Masyarakatpun berdatangan dengan berbagai tujuan dan keyakinan.Ada yang datang hanya sekedar melihat keramaian,namun kebanyakan di antara mereka yang datang dengan membawa keyakinan,antara lain mempersembahkan sesajen untuk mengharap berkah atau menghindari kemudaratan,ada yang datang untuk mengambil benang atau kayu yang nantinya djadikan jimak mempermuda jodoh atau memperancar usaha.
            Waktu terus berjalan menuju ke era modern.Tradisi upacara adat “Akjeknek-jeknek Sappara”pun mengalami kemajuan kearah modernisasi.Kalau dulu hanya dihadiri oleh warga masyarakat Kerajaan Tarowang,kini dihadiri pula oleh masyarakat luar Kabupaten Jeneponto.Kalau dulu hanya dilakukan oleh tokoh-tokoh adat,kini pemerintah telah ikut berpartisifasi.Kalau dulu hanya dimeriahkan dengan acara adu ayam (Aklotteng),adu manusia (Assempak),dan upacara adat (appaenteng panggadakkan),kini telah di meriahkan dengan pertandingan berbagai cabang olah raga dan seni,dan ajang promosi diri bagi calon-calon pemimpin.Kalau dulu hanya untuk mengenang jasa-jasa Sang Tabib,kini telah dilengkapi untuk mengenang keberadaan kerajaan Tarowang.Kalau dulu hanya menggunakan musik tradisional (Ganrang tallu),kini dilengkapi dengan musik modern (elekton).
          Tradisi “Akjeknek-jeknek Sappara” memliki prosfektik yang cerah karena sudah menjadi agenda tahunan masyarakat bahkan pemerintah kabupaten,karena oleh pihak pemerintah memandangnya sebagai suatu budaya yang perlu dilestarikan karena mengandung nilai wisata,ekonomi dan silaturrahmi.Apalagi setelah terbentuk Kecamatan Tarowang melalui Perda Kab.Jeneponto No.9 Tahun 2006.Media massapun memperomosikannya.Namun,yang menjadi pertanyaan bagi kita yang Beragama Islam apakah kepercayaan atau keyakinan masyarakat yang ada di dalamnya juga akan terus berkembang,sehingga sampai meninggal mereka akan mempersembahkan sesajen di laut karena didorong oleh “harap dan takut”,atau akan memperebutkan benang dan kayu untuk dijadikan jimak ?. Apakah praktek judi sabun ayam akan terus berlanjut ?Jawabannya kita kembalikan ke diri kita masing-masing.Dan kita berharap agar hal-hal yang positif kita teruskan dan tingkatkan dan hal-hal negatif kita luruskan dan tinggalkan.Sebagai pesta rakyat yang bernilai ekonomi,wisata,kerativitas dan silaturrahim,kita dukun demi pembangunan daerah kita terutama Kecamatan Tarowang,tetapi hal-hal yang bisa merusak akidah ini yang perlu kita luruskan dan menjadi tanggaung jawab kita semua terutama para ulama ulama atau tokoh agama Desa Balangloe Tarowang khusnya dan Kab.Jeneponto umumnya agar masyarakat bisa membedakan antara tradisi murni dengan tradisi yang mengadung kesyirikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar